Segera Gadaikan Seluruh BUMN Indonesia
March 16, 2009
Segera gadaikan seluruh BUMN di Indonesia. Setelah beberapa penjualan BUMN seperti listing Telkom di NYSE, Semen Gresik dan Indosat, nampaknya masih belum lengkap jika beberapa BUMN lain yang dianggap sektor usahanya kompetitif tidak ikut serta dijual. Masih ada beberapa BUMN yang tersisa, seperti Garuda Indonesia, BTN, BRI, BNI, Bank Mandiri, Telkom dan Pertamina dimana kesemua perusahaan ini dapat dijual seluruhnya (100%).
Bahkan UU Nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN tidak memberikan indikasi baik secara eksplisit maupun implisit tentang proteksi terhadap BUMN yang akan dijual. Pasal 76 UU 19/2003 secara tertulis menyatakan sebuah perusahaan yang dapat diprivatisasi setidak-tidaknya memenuhi kriteria : (a) industri/sektor usahanya kompetitif, atau (b) industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah. Dengan demikian, semua BUMN milik Indonesia saat ini bisa dijual 100%.
Read the rest of this entry »
Jangan Jadi Diplomat
December 15, 2008
Pengalaman hari pertama saya menjalani internship di Konsulat Jenderal Republik Indonesia – Sydney (KJRI Sydney) cukup menarik. Tugas hari pertama saya adalah di bidang protokoler, sehingga saya diminta untuk mengantar dan menjemput ke Sydney Airport beberapa tamu KJRI Sydney yang berasal dari KBRI maupun KJRI di beberapa negara tetangga. Ini adalah hal yang sangat menyenangkan karena tugas ini memberikan saya kesempatan untuk sedikit belajar tentang praktek protokoler sembari memperluas network.
Namun, jauh dari keasyikan tersebut, di sore harinya saya menjalani kegiatan yang jauh menarik disaat berbincang dengan Bapak Edy Wardoyo, Konsul Fungsi Kekonsuleran KJRI Sydney. Bapak Edy Wardoyo menyampaikan beberapa hal kepada saya mengenai beberapa pengertian dasar Pedoman Tertib Diplomatik dan Tertib Protokol dan juga mengenai seputar kehidupan Diplomat. Beliau memberikan beberapa informasi dasar mengenai pedoman hukum dan pedoman diplomatik, pedoman ekonomi di bidang diplomasi, pedoman penerangan politik luar negeri, dan beberapa pedoman lainnya seputarfungsi diplomatik dan protokol.
Inspirasi dari Flores
October 24, 2008
Kemarin waktu makan siang, saya berkenalan dengan salah satu orang Indonesia dari Flores, namanya Ibu Alfonsa. Ibu Alfonsa ini adalah salah satu pemenang Australian Leadership Awards yang mendapat kesempatan keliling Australia selama 3 bulan untuk presentasi tentang usahanya melestarikan salah satu nilai2 kebudayaan Indonesia. Dari Canberra hingga Adelaide, semuanya sudah dijamah dan berhasil menarik perhatian orang-orang Australia.
Upaya Ibu Alfonsa ini adalah peran dan kerja kerasnya dalam melestarikan Kain Tenun Ikat khas Flores (Sentra Tenun Ikat Lepo Lorun – STILL), NTT. Tradisi membuat kain tenun adalah salah satu warisan nenek moyang masyarakat flores yang selama ini, bagi orang-orang flores, membuat kain tenun hanyalah sebuah aktivitas budaya sehingga makin lama makin tenggelam alias tinggal sedikit orang yg bisa menenun. Hal ini menggugah Ibu Alfonsa untuk merevitalisasi semangat orang-orang flores dan tetap membuat kain tenun hingga akhirnya usaha kain tenun ikat ini tidak hanya bertahan di flores, tetapi dikenal di penjuru dunia bahkan sampai ekspor ke negara-negara eropa. Terlampir foto-foto pameran Ibu Alfonsa sewaktu di Australia.
Saya sangat salut dan bangga. Disaat yang sulit seperti ini masih ada orang yang menyisihkan waktunya untuk mempertahankan nilai-nilai kebudayaan kita, yang ia berhasil bekerja keras dan bangkit dengan usahanya sendiri tanpa bantuan pemerintah dan pihak asing. Di sisi lain, hal ini semakin meyakinkan kita semua bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya. sangat kaya. sangat kaya. Kekayaan sumber daya alam dan nilai-nilai kearifan lokal dari sabang sampai merauke nggak akan bisa selesai kita jelajahi satu persatu karena saking banyaknya. Dan semua ini adalah titipan anak cucu kita, agar kita bisa melestarikan dengan sebaik-baiknya.
Harapan untuk Kevin Rudd
September 20, 2008

Symposium of OZ-Asia Festival
Pagi tadi saya harus bangun lebih pagi dari biasanya untuk menghadiri undangan keynote speech dalam Symposium OZ-Asia Festival yang dibawakan oleh Prime Minister of Australia, The Hon Kevin Rudd MP. Saya sampai di Adelaide Festival Centre tepat pada pukul 08.00, dimana tempat keynote speech ini diselenggarakan.
Tepat pada pukul 09.30, Kevin Rudd hadir dan memulai pidatonya. Sesuai dengan konteks simposium yang diselenggarakan, pidato ini adalah mengenai hubungan Australia dan Asia. Bagi Kevin Rudd, abad 21 merupakan abad milik Asia. Perkembangan Asia yang sangat signifikan di awal abad 21, termasuk perkembangan China dan India, memberikan sinyal bagi Australia untuk lebih meningkatkan frekuensi dan kualitas kerjasama dengan Asia. Meskipun Australia merupakan negara dengan dominasi penduduk kulit putih, dimata Kevin Rudd, bagaimanapun Australia secara geografis merupakan bagian dari Asia Pasifik. Asia adalah prioritas utama kebijakan luar negeri Australia saat ini.
Kevin Rudd menambahkan, hingga tahun ini terdapat lebih dari 350.000 mahasiswa Asia yang belajar di Australia. Ini merupakan jumlah yang menggembirakan bagi Australia, dengan harapan para mahasiswa Asia setelah lulus mampu kembali ke negaranya masing-masing dan memahami Australia dengan lebih komprehensif, atau bahkan Australia juga terbuka untuk menampung para lulusan mahasiswa Asia untuk bekerja di Australia.
Menuju Republik Australia
September 18, 2008
Menjalani kegiatan rutin harian dan mingguan terkadang membuat saya sedikit jenuh, namun tidak untuk hari ini. Dalam kelas tutorial mata kuliah Australia and the World, ada fenomena menarik yang membuat saya ikut berdebat dalam kelas tutorial. Tidak lain, tema yang diangkat hari ini adalah hubungan Australia sebagai sebuah negara dengan United Kingdom dan negara-negara lain di Eropa. Tema ini akhirnya mengarah pada sebuah pertanyaan yang cukup tajam : haruskah Australia menjadi negara republik?
Pandangan awal dilontarkan oleh tutor saya, Dr. Leonie Hardcastle. Tutor yang juga sekaligus menjabat sebagai Associate General Manager – Faculty Social Sciences Flinders University ini mengemukakan bahwa perkembangan zaman membawa orang-orang kulit putih di Australia (atau biasa kami sebut dengan white Australia dan native Australia) berpikir lebih kritis mengenai bentuk negara yang dideklarasikan pada tanggal 1 Januari 1901 ini. Native Australia berpikir bahwa belakangan ini ada dan tidaknya Ratu Elizabeth II sebagai pemimpin negara-negara commonwealth di Australia menjadi sama sekali tidak berpengaruh bagi perkembangan Australia secara keseluruhan. Rakyat Australia semakin kritis dan cerdas yang kemudian menggulirkan wacana mengubah bentuk negara mereka menjadi Republik.