Saatnya Turun dari Menara Gading
February 16, 2009
Semakin maraknya fenomena pemilihan duta di Indonesia nampaknya perlu menjadi perhatian bersama. Baik kontes puteri-putera, duta pariwisata, duta pemuda maupun duta budaya dari tingkat daerah hingga tingkat nasional, ajang pemilihan yang sebagian besar melibatkan kompetensi brain, beauty dan behavior ini, disadari atau tidak, jika tidak dikelola dengan bijaksana dan dipersiapkan dengan matang, sedikit banyak mampu memiliki potensi untuk bergeser dari tujuan awal penyelenggaraan pemilihan.
Menjadi duta merupakan sebuah kesempatan dimana kita dipercaya tampil untuk mewakili nilai-nilai maupun semangat yang dimiliki oleh suatu komunitas ataupun masyarakat tertentu, baik dalam lingkup yang luas maupun lingkup khusus. Dalam perspektif normatif, makna mewakili tentu memiliki arti yang komprehensif, dimana seorang duta tidak hanya sekadar dituntut untuk menjadi skill-full atau memiliki kemampuan teknis seperti penguasaan bahasa asing, public speaking, serta penguasaan pengetahuan umum dan current affair, namun lebih dari itu, sesungguhnya menjadi seorang duta juga harus memiliki values of attitude yang mutlak tidak kalah pentingnya dengan kemampuan teknis. Values of attitude disini terdiri dari nilai-nilai integritas, loyalitas, kemauan untuk bekerja keras dan kematangan seseorang dalam bersikap serta berperilaku (maturity).