Harapan untuk Kevin Rudd
September 20, 2008

Symposium of OZ-Asia Festival
Pagi tadi saya harus bangun lebih pagi dari biasanya untuk menghadiri undangan keynote speech dalam Symposium OZ-Asia Festival yang dibawakan oleh Prime Minister of Australia, The Hon Kevin Rudd MP. Saya sampai di Adelaide Festival Centre tepat pada pukul 08.00, dimana tempat keynote speech ini diselenggarakan.
Tepat pada pukul 09.30, Kevin Rudd hadir dan memulai pidatonya. Sesuai dengan konteks simposium yang diselenggarakan, pidato ini adalah mengenai hubungan Australia dan Asia. Bagi Kevin Rudd, abad 21 merupakan abad milik Asia. Perkembangan Asia yang sangat signifikan di awal abad 21, termasuk perkembangan China dan India, memberikan sinyal bagi Australia untuk lebih meningkatkan frekuensi dan kualitas kerjasama dengan Asia. Meskipun Australia merupakan negara dengan dominasi penduduk kulit putih, dimata Kevin Rudd, bagaimanapun Australia secara geografis merupakan bagian dari Asia Pasifik. Asia adalah prioritas utama kebijakan luar negeri Australia saat ini.
Kevin Rudd menambahkan, hingga tahun ini terdapat lebih dari 350.000 mahasiswa Asia yang belajar di Australia. Ini merupakan jumlah yang menggembirakan bagi Australia, dengan harapan para mahasiswa Asia setelah lulus mampu kembali ke negaranya masing-masing dan memahami Australia dengan lebih komprehensif, atau bahkan Australia juga terbuka untuk menampung para lulusan mahasiswa Asia untuk bekerja di Australia.
Memaknai Sebuah Perjalanan
September 19, 2008
Ada hal menarik yang hari ini saya alami. Sekadar memutar kembali koleksi TVC (Television Commercial) yang saya miliki dalam notebook, tiba-tiba ada sebuah TVC Garuda Indonesia yang mengundang perhatian saya. TVC ini sebenarnya sudah sering saya saksikan, namun kali ini saya menjadi lebih tertarik karena script yang ada dalam TVC tersebut setelah saya pahami kembali memberikan makna yang dalam bagi saya.
TVC yang saya maksud ini adalah TVC Garuda Indonesia yang dikeluarkan pada sekitar awal tahun 2006 hingga tahun 2007, berdurasi 90 detik, dengan pesan utama Perjalanan Sebuah Kesungguhan Hati, Garuda Indonesia. Disisi lain, tiga baris script yang ditampilkan sebelum pesan utama juga menarik perhatian saya untuk memahami lebih dalam, bahwa sebenarnya apapun yang kita lakukan dalam hidup ini adalah sebuah perjalanan. Berikut script yang saya maksud tersebut:
Menuju Republik Australia
September 18, 2008
Menjalani kegiatan rutin harian dan mingguan terkadang membuat saya sedikit jenuh, namun tidak untuk hari ini. Dalam kelas tutorial mata kuliah Australia and the World, ada fenomena menarik yang membuat saya ikut berdebat dalam kelas tutorial. Tidak lain, tema yang diangkat hari ini adalah hubungan Australia sebagai sebuah negara dengan United Kingdom dan negara-negara lain di Eropa. Tema ini akhirnya mengarah pada sebuah pertanyaan yang cukup tajam : haruskah Australia menjadi negara republik?
Pandangan awal dilontarkan oleh tutor saya, Dr. Leonie Hardcastle. Tutor yang juga sekaligus menjabat sebagai Associate General Manager – Faculty Social Sciences Flinders University ini mengemukakan bahwa perkembangan zaman membawa orang-orang kulit putih di Australia (atau biasa kami sebut dengan white Australia dan native Australia) berpikir lebih kritis mengenai bentuk negara yang dideklarasikan pada tanggal 1 Januari 1901 ini. Native Australia berpikir bahwa belakangan ini ada dan tidaknya Ratu Elizabeth II sebagai pemimpin negara-negara commonwealth di Australia menjadi sama sekali tidak berpengaruh bagi perkembangan Australia secara keseluruhan. Rakyat Australia semakin kritis dan cerdas yang kemudian menggulirkan wacana mengubah bentuk negara mereka menjadi Republik.
Pendopo : di tengah gegap gempita Adelaide
September 17, 2008

Pendopo
Satu hal yang lagi-lagi membuat saya bangga dengan Indonesia. Ya, kekayaan nilai-nilai kebudayaan yang sangat mempesona. Mari kita bertanya kepada setiap orang di seluruh dunia, Negara mana yang memiliki kebudayaan yang mahakaya? Salah satu diantaranya, pastilah Indonesia. Mulai dari sabang hingga merauke, ribuan nilai-nilai kebudayaan membentang dan tersebar luas dengan keanekaragamannya. Bahkan, jika kita sebutkan semuanya satu persatu, saya yakin, tulisan ini tidak akan mampu memuat dengan detail rincian kekayaan kebudayaan kita.
Kekayaan kebudayaan Indonesia juga tidak hanya diakui oleh orang-orang Indonesia saja. Sebut saja Australia, tempat saya saat ini menuntut ilmu. Di tengah gegap gempita arus modernisasi dan globalisasi yang saat ini melanda Australia, kebudayaan Indonesia adalah salah satu kebudayaan yang paling diapresiasi di negeri kangguru ini. Hal ini terlihat dari adanya sebuah bangunan bernama Pendopo yang didalamnya terdapat seperangkat gamelan jawa lengkap. Jauh dari bumi Indonesia, Pendopo ini berdiri megah diantara jajaran gedung kampus The Flinders University of South Australia.
Pendopo ini berdiri pada tahun 1990, dengan gaya arsitektur persis pendopo yang biasa kita temui di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Sengaja didirikan sebagai bentuk apresiasi atas luhurnya nilai-nilai kebudayaan Indonesia, Pendopo hingga saat ini sering dijadikan tempat untuk mempelajari nilai-nilai multikulturalisme yang sedang gencar dikampanyekan oleh pemerintah Australia. Perangkat lengkap gamelan yang menghiasi keindahan Pendopo pun merupakan gamelan jawa asli yang berasal dari Yogyakarta. Terdapat empat arca yang berdiri disetiap titik sudut pendopo, berupa arca Ganesha, Sugriwo, Semar dan Rajawali, yang juga merupakan tokoh cerita pewayangan yang sering kita dengar di Indonesia.
Perayaan Sekaten di Adelaide – The Royal Adelaide Show 2008
September 16, 2008
Mendengar kata sekaten pasti sudah tidak asing lagi bagi kita. Ya, sebuah bentuk akulturasi nilai kebudayaan jawa yang diwujudkan dalam bentuk upacara adat serta pasar malam dengan berbagai jenis hiburan untuk masyarakat umum. Saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai upacara adat Sekaten, karena Meika Hazim sudah membahas hal ini dengan detail.
Mencoba dari sudut pandang lain, saya akan membahas mengenai pasar malam sejenis Sekaten yang barusaja digelar di Adelaide. Pasar Malam tahunan ini bernama The Royal Adelaide Show 2008 (RAS 2008) yang dilaksanakan di Adelaide Showground, sebuah expo center yang terletak kurang lebih empat kilometer dari King William Street, jantung kota Adelaide. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, RAS 2008 adalah perayaan terbesar sepanjang sejarah Adelaide. Pelaksanaannya pun kurang dari dua minggu, dari tanggal 5 hingga 13 September 2008. Untuk menikmati pasar malam ini, pengunjung harus rela mengeluarkan AU$17 untuk satu orang, dan untuk mahasiswa seperti saya mendapat keringanan sebesar AU$12.5 untuk satu orang.
Secara umum, tidak ada yang spesial di RAS 2008. Hiburan untuk masyarakat juga tersedia dalam berbagai macam bentuk, mulai dari stage performance hingga roller coaster. Yang sedikit berbeda, ada pertunjukan sekelas Ancol yang bisa dinikmati dalam RAS 2008, seperti Toyota Car Race yang menampilkan atraksi mentantang, dan juga Motorbike Race yang tidak kalah seru. Pesta kembang api juga digelar setiap hari sebagai penutup pasar malam, tepat pada jam 9 malam.
RAS 2008 kali ini didukung oleh banyak sponsor sehingga menjadi perayaan pasar malam terbesar sepanjang sejarah Adelaide. Berbagai produk sponsor juga ditawarkan dengan harga miring dalam stand Showbags, seperti paket coklat Cadbury yang biasanya dijual dengan harga lebih dari AU$50, kali ini hanya dijual AU$15 ditambah dengan berbagai macam bonus. Produk majalah juga tidak ketinggalan, menjual merchandise majalah mereka, seperti MensHealth yang memberikan bonus tas dan handuk fitness di setiap pembelian Showbags.
Melihat Kebelakang
September 11, 2008
Sedikit berlebihan ketika kita takut melangkah hanya karena terlalu banyak melihat kebelakang. Sekelam apapun masa lalu kita, seburuk apapun langkah yang telah kita ambil, bagaimanapun juga itu sudah terjadi. Its just happened. Bahkan jika kita mau memahami lebih dalam lagi, pasti ada sebuah hikmah, ada sebuah maksud dalam setiap kejadian yang menimpa pada diri kita di masa lalu. Tidak ada peristiwa yang kebetulan, karena semuanya memang harus kita lewati sebagai jalan hidup kita, sebagai bagian dari proses pematangan dan pendewasaan diri kita.
Satu-satunya hal yang perlu dipersiapkan ketika kita telah mengambil keputusan yang salah, fatal dan menghancurkan hidup kita adalah memperbaikinya, kemudian menempuh langkah turnaround. Seperti kata Rheynald Kasali, tak peduli seberapa salah langkah kita, putar arah sekarang juga. Tidak ada kata terlanjur, terlambat dan sebagainya. Orang yang berpikiran luas akan mempersiapkan diri untuk bekerja keras memperbaiki kesalahan, memutar arah dan mempersembahkan yang terbaik. Dengan penuh tanggung jawab, orang yang berpikiran luas juga akan meminta maaf kepada setiap pihak yang telah ia rugikan dan ia kecewakan. Bukanlah lebih baik mencoba gagal daripada gagal mencoba?
Wallahua’lam bishawab.
Kenyataan yang Menyedihkan
September 4, 2008

Satu bulan setelah tinggal di Adelaide, saya ditawari pekerjaan untuk menjadi translator Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris di Radio Adelaide 101.5FM (Radio milik University of Adelaide). Saya bekerja setiap hari minggu, dan sampai hari ini, sudah tiga kali saya menterjemahkan percakapan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.
Singkat cerita, ada sebuah percakapan bahasa Indonesia yang ketika saya terjemahkan membuat saya sangat sedih dan tersentuh. Percakapan ini adalah sebuah cerita tentang derita yang dialami kaum adat suku Dayak di Kalimantan Barat, dekat Pontianak. Mereka mengeluh tentang dampak kegiatan perusahaan asing di tanah mereka. Perusahaan ini adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit yang basisnya ada di Singapore dan Kuala Lumpur. Perusahaan ini menjalin ‘kerjasama’ dengan masyarakat adat suku Dayak, dengan cara menyewa tanah mereka selama 25 tahun, dengan masing-masing tanah yang harus disewakan kepada perusahaan adalah sekitar 7.5 hektar per orang. Masalah terjadi ketika ternyata perusahaan ini sama sekali tidak memiliki rasa hormat dan niat baik kepada masyarakat adat suku Dayak, sebagai pemilik tanah kalimantan yang sebenarnya dan juga sebagai partner kerjasama. Masalah tersebut terdiri dari:
Jadi begitu ya?
September 3, 2008
Saya agak terheran-heran dengan beberapa orang Indonesia yang saya temui di Adelaide. Tidak semuanya sih, tapi beberapa ada juga yang masih suka beropini unik tentang Indonesia. Mulai dari membanding-bandingkan Indonesia dengan negara lain (yang ini sih nggak masalah, karena dengan begini Indonesia bisa dapat input yang membangun), sampai mencela sedalam-dalamnya Indonesia, tanpa memberi solusi dan berbuat sesuatu. Heran saya, apa mereka sudah lupa ya kalo sebenarnya mereka warga negara Indonesia? Jadi begitu ya?
Indonesia memang saat ini jauh tertinggal dibanding negara-negara berkembang yang lain, sebut saja India, Malaysia, dan sebagainya. Indonesia juga bukanlah negara yang paling sempurna keanekaragamannya. Walaupun begitu, jika dikelola baik, saya tetap percaya bahwa Indonesia bisa menjadi salah satu pilar kekuatan di Asia Tenggara, bahkan di Asia. masalahnya terletak pada ketidakmauan (bukan ketidakmampuan) kita untuk membangun tanah air dengan lebih serius. Kasus-kasus korupsi, penyelewengan wewenang dan jabatan, dan masih banyak kasus lainnya adalah hasil dari ketidakmauan kita ini. Padahal disisi lain, kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk menjadikan Indonesia jauh lebih baik dari saat ini.
Kembali ke masalah orang-orang yang beropini unik diatas. Bagi saya pribadi, salah satu aset bangsa Indonesia yang memiliki prospek untuk memperbaiki kondisi bangsa Indonesia saat ini adalah mereka yang berkesempatan mendapatkan pendidikan diluar negeri, kemudian mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari di Indonesia. Begitulah common normative framework untuk orang-orang Indonesia yang saat ini mendapat kesempatan belajar diluar negeri, apalagi bagi mereka yang mendapat beasiswa.