sedikit kisah JAFF 2006 (1)
March 17, 2008
Suatu ketika, saya diminta untuk menjadi Hospitality Director dalam sebuah festival film asia, Jogja-NETPAC Asian Film Festival. dengan proses yang rumit, saya mendapat sebuah tantangan ketika harus mendatangkan seorang tokoh film dari Irak. Sebenarnya dalam festival film asia ini bukan cuma satu atau dua orang yang diundang dari luar negeri untuk memeriahkan acara, namun lebih dari delapan orang yang termasuk diantaranya dari India, Singapura, Malaysia, Filipina. Dan memang, pilihan terberat (dengan kemungkinan 50-50 untuk datang) adalah ketika mengundang Atia J. Rhaif Al-Draje dari Irak. Saya dihadapkan dengan pilihan pilihan sulit yang menuntut kemampuan untuk memutuskan segala sesuatu dengan cepat dan tepat.
Ada beberapa masalah yang saya hadapi waktu itu :
VISA
Waktu itu saya terbiasa mengurusi VISA untuk warga negara Australia dan sekitarnya, yang sejauh ini cukup mudah untuk mendapatkan visa dengan sistem visa on arrival. kalaupun tidak dengan visa on arrival, paling tidak KBRI di negara yang bersangkutan akan mengeluarkan visa dengan proses yang tidak terlalu rumit. Namun yang satu ini, Atia, harus mendapatkan visa Indonesia di negara lain, karena KBRI di Irak sudah tidak diberi wewenang untuk mengeluarkan visa (karena kondisi politik di Irak yang belum jelas waktu itu). Belum lagi rumor dari orang-orang deplu yang mengatakan bahwa orang Irak mustahil dapat visa Indonesia karena ditakutkan tersangkut jaringan teroris. duh!
FLIGHT ROUTE & CARRIER
Karena Bos Besar berkomitmen untuk mendukung saya secara finansial, sejauh rutenya jelas (terbang dari london/los angeles sekalipun), akan saya beli untuk mendatangkan Atia dari Irak. namun ternyata, tidak ada maskapai internasional satu pun yang mendarat di bandara Irak. Bahkan British Airways atau Emirates sekalipun agaknya masih takut untuk membuka rute dari Irak. Pernah suatu ketika saya cek “connecting flight” milik KLM dari Irak-Indonesia, dan ternyata harganya juga sejauh rutenya, (believe it or not) lebih dari 100 juta harus dikeluarkan untuk memboyong Atia ke Indonesia jika saya menggunakan KLM. wow!
TIME FRAME
dalam waktu kurang dari 10 (sepuluh) hari, masalah-masalah di atas harus selesai. padahal seperti yang kita tahu, proses aplikasi visa mengharuskan kita mendaftar minimal satu minggu sebelum visa dikeluarkan, pun jika memang visa berhasil dikeluarkan. di sisi lain, reservasi tiket pesawat harus dilakukan dengan teliti dan pasti. bisa dibayangkan, bagaimana jika tiket pesawat sudah dibeli dan ternyata visa tidak bisa keluar tepat waktu?. sedangkan bukan hanya masalah pre-festival yang harus diselesaikan, namun pada hari pelaksanaan hingga post-festival sekalipun harus selesai sebelum festival besar ini dilangsungkan. Lalu?
Kemudian saya berpikir untuk memecahkan masalah ini satu persatu, tentunya dengan dukungan dari teman dan koneksi yang dimiliki oleh komunitas saya, kemudian saya ’sedikit’ berspekulasi dengan mengambil solusi yang belum tentu berhasil bila diterapkan. dalam benak saya waktu itu, ‘masalah ini sangat mungkin selesai dengan baik walaupun caranya sulit’.
VISA
langkah pertama yang saya lakukan adalah dengan mencari informasi ke KBRI di Irak mengenai cara mendapatkan visa untuk Iraqi. kemudian saya diminta untuk mengirimkan fax/surat resmi dari panitia JAFF perihal undangan Atia ke Indonesia. Hari itu juga saya kirim fax ke KBRI di Irak, dan ternyata hasilnya nol. Saya diminta untuk mengirim ulang fax tersebut ke KBRI di Damaskus (Syria). Jalur ‘depan’ pun saya tempuh dengan mengirim ulang fax ke KBRI Damaskus. Selang waktu 48 jam/2 hari, KBRI Damaskus baru merespon bahwa mereka pun tidak diberi wewenang oleh Departemen Luar Negeri untuk mengeluarkan visa, dan yang berhak adalah KBRI di Amman, Jordania. Dan seperti di KBRI Irak, saya diminta untuk mengirim fax ke KBRI di Amman segera.
Tidak ada kabar resmi yang bisa saya andalkan dari KBRI Amman, sehingga akhirnya saya meminta bantuan Bapak Sudaryomo (Konjen RI di Sydney, Australia) yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Biro Kerjasama Pemprov DIY untuk membantu Lobby ke KBRI Amman perihal visa Atia. Bahkan ternyata surat dari Walikota Jogja pun tidak mempan untuk menjadi ’surat sakti’ di KBRI Amman, dan dengan kata lain harus dengan surat dari Gubernur DIY. Akhirnya surat tersebut dikirim dengan kepentingan dan keperluan yang sama ke KBRI Amman untuk kedua kalinya (namun kali ini Ngarso Dalem yang tanda tangan) lengkap beserta data diri Atia dan Copy Passport.
Selang hari berganti, saya mencoba menghubungi KBRI Amman. Informasi pertama yang saya dapatkan dari officer di KBRI Amman adalah KBRI di Amman pada saat itu LIBUR selama 5 hari *GILA!! jika dihitung 5 hari itu sudah masuk hari festival, sementara Atia harus mengisi seminar di hari ke-6*. Informasi kedua yang saya dapatkan adalah, ternyata untuk warga negara tertentu (termasuk Irak) yang berhak mengeluarkan visa adalah deplu pusat *waduh…*, dan harus melalui proses rapat rutin konsuler setiap hari kamis. KBRI Amman akan mengeluarkan ketika deplu sudah mengirim nomor kawat (semacam kode booking pesawat, namun kali ini untuk visa).
Saya secara spontan terkejut sampai akhirnya saya memutuskan untuk langsung menghubungi Dubes Indonesia untuk Jordania, saat itu dijabat oleh Bapak Arya (terima kasih banyak, Pak). Dan akhirnya saya sedikit bisa bernapas lega, ketika Pak Arya dengan senang hati mengabulkan permintaan saya untuk mengeluarkan visa Atia kapanpun ketika nomor kawat dari deplu keluar, tanpa terhambat oleh hari libur nasional di Amman, Jordania.
Bersambung…
aku mau tau lanjutannya… bahasanya hangga banget ya… selamat datang di dunia per-blog-an…
langsung masukin blogroll diriku toh…
Makasih banget hangga….
trus,, trus..? lanjut…! huehe…
sama seperti di atas,, selamat datang di dunia per-blog-an… mari kita wujudkan sejuta blogger di Indonesia..! wkeke…
eniwei, pak,, namaku Kaharudin (dengan 1 D).. huhu.. tapi tak apa,, paling nggak,, dah nongol di blogroll mu.. *kedip-kedip*